Self Improvement dari Kesadaran dan Kesederhanaan

 

 

Hi lagi. Tulisan ini ada karena kelas menulis blog yang aku ikuti. Tanpanya, mungkin saja aku tak akan terpikirkan untuk menuliskan ini. Terima kasih kepada para mentornya.

Saat merenungkan apa yang ingin ku tulis dalam tugas artikel ini, banyak yang muncul di dalam benakku. Dimulai dari ingin menuliskan perjalanan ku di suatu tempat, film yang ingin ku bahas, dan lain-lain. Tapi mungkin Tuhan menginginkan aku untuk membuat tulisan ini, yaitu Self Improvement dari Kesadaran dan Kesederhanaan.

Aku tidak mengatakan bahwa aku sudah menjadi sadar sepenuhnya tentang kehidupan ini, tapi yang aku ingin ungkapkan ialah bagaimana hal-hal sederhana yang ku kerjakan dapat berpengaruh pada self improvementku.

Mungkin sumber ilmu yang ku dapatkan masih sempit, sehingga baru merasa topik tentang self improvement beberapa tahun terakhir cukup sering ku temui dalam berbagai media. Seperti, tulisan, video, kampanye, dan lain sebagainya. Seingatku, dulu belum banyak bahasan tentang itu.

Yang ku temui dulu kebanyakan ialah kalimat bijak dan kalimat motivasi, dengan bahasa-bahasa puitis dan tinggi. Yang aku rasa, tulisan itu seperti penghibur bagi mereka yang sedang lara.

Mengenai self improvement, aku sadar dalam beberapa waktu terakhir, banyak dari diriku yang berubah menjadi lebih baik. Itu didapatkan dari “badai” di dalam diriku. Karena “badai” itu lah aku banyak belajar, dan ia membuatku bertemu dengan komunitas serta orang-orang yang mempengaruhi diriku, sehingga menjadi pribadi yang lebih baik.

Belajar dan menjadi lebih baik tidak perlu dari hal-hal luar biasa, justru ia datang dari sebuah kesederhanaan.

Lucu mengingat diriku yang dulu sangat rumit malah tersadarkan oleh kesederhanaan. Cerita lengkapnya mungkin akan sangat panjang, jadi aku akan membagikan beberapa hal saja yang terlintas dipikiranku.

Banyak bacaan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga atau pihak-pihak tertentu, yang dapat membantu untuk membuat diri menjadi lebih baik. Namun, aku terkendala biaya untuk mengaksesnya. Dan semakin ke sini, aku merasa bahwa, aku tidak perlu mengikuti itu jika tidak mampu.

Aku tidak tahu akan berdampak kah tulisanku ini atau tidak bagimu, para pembaca. Tapi, dari hal hal ini lah aku mendapatkan self improvement.

Saat menutup pintu, contohnya.

Lucu saat menyebutnya, dan aneh mungkin. Tapi aku pernah tinggal bersama orang yang menutup pintu dengan cara membantingnya. Cukup kesal saat itu terjadi, terutama saat aku sedang fokus melakukan sesuatu namun tiba-tiba buyar karena suara bantingan pintu. Dan, dia nampak tidak merasa bersalah karena telah melakukannya.

Mungkin dia sudah terbiasa dan menganggap hal itu biasa. Dan seharusnya aku memaklumi hal itu, sebab dia bukan lah orang yang jahat.

Dari hal itu, aku benar-benar kekeuh bahwa pintu harus ditutup dengan perlahan dan hati-hati. Pertama, karena orang lain bisa saja merasa terganggu dengan apa yang suara bantingan pintu. Kedua, aku tidak ingin merusak benda itu. Hikmahnya, aku belajar menjadi orang yang lebih berhati-hati dan setidaknya memiliki perhatian.

Dulu, aku pernah menjadi orang yang sangat teledor dan pelupa. Berkali-kali kembali ke rumah hanya untuk mengambil kunci yang masih tergantung di lubangnya. Atau kembali hanya untuk mengambil handphone yang tertinggal. Atau, saat harus berangkat ke suatu tempat namun lupa dimana menaruh kunci motor, dan proses pencarian kunci motor pada akhirnya membuat kami terlambat.

Itu melelahkan dan aku menjadi orang yang menyebalkan bagi beberapa orang yang menjadi korban karena keteledoranku.

Aku sadar, keteledoranku itu karena tergesa-gesa dan banyak hal yang terpikirkan dalam satu waktu. Aku selalu ingin sampai tepat waktu atau tidak terlambat, minimal. Sehingga ketika waktu bagiku terasa cukup mepet, maka aku akan tergesa-gesa. Sebab, aku takut orang yang menungguku akan kesal karena menunggu. Dan pikiranku menjadi liar hingga menciptakan adegan dimana orang yang aku temui memarahiku dan kecewa, hingga membicarakan keterlambatanku pada orang lain, dan orang-orang pun mulai tidak menyukaiku karena terlambat, dan terus berkembang ke hal yang menakutkan dan berlebihan. Untungnya, itu hanya dipikiranku saja.

Dengan kesadaran akan kekurangan itu, aku pun mulai untuk mempersiapkan diri minimal dua jam sebelum pergi, dan mempersiapkan barang-barang yang kubutuhkan dengan fokus dan penuh perhatian. Maksudnya ialah, aku selalu memperhatikan apa yang ku lakukan dan apa yang masuk ke dalam tas, sehingga tak ada lagi sesuatu yang terlupa atau barang yang tertinggal.

Dan dalam tiap langkah menuju pintu keluar, aku berusaha untuk tidak memikirkan apapun atau mengecek apakah ini dan itu sudah masuk ke dalam tas atau belum, hal ini membuatku menjadi lebih fokus dan percaya pada apa yang ku lakukan.

Dan karena kekurangan itu, aku belajar untuk menyimpan barang pada tempatnya. Seperti tempat menggantung kunci, yang ku sediakan untuk menaruh kunci motor dan kunci lain, sesuai dengan posisinya. Atau wadah yang ku siapkan untuk menaruh sarung tangan untuk naik motor. Hal ini membuat semuanya terasa lebih mudah untuk melakukan hal selanjutnya.

Lalu, mengenai berusaha untuk tidak memikirkan apapun, itu merupakan hal yang sangat sulit awalnya. Sebab, aku adalah orang yang overthinking.

Aku menyadari itu dan berusaha untuk menemukan mengapa itu terjadi. Dan aku menemukan bahwa itu terjadi karena diriku yang tidak fokus pada apa yang dilakukan. Saat menyapu misalnya.

Dulu, saat menyapu lantai rumah, pikiranku seringkali melanglangbuana ke masa lalu, dan masa depan, atau hal-hal lain yang tidak terjadi atau eksis. Bukan time travel atau meramal, tapi menyelami rasa penyesalan dan kekhawatiran.

Hal ini juga terjadi pada kegiatan lain, tidak hanya pada saat sendiri, tapi saat berkumpul dengan orang-orang, aku juga seringkali mengalami itu.

Merepotkan, sungguh. Dan aku merasa sangat lelah menjadi orang yang seperti itu.

Hingga suatu hari dalam diskusi di sebuah grup, seseorang mengatakan, “Baca lah dengan kepedulian dan perhatian, sehingga terpahami dan tak ada yang terlewat.” Dan beliau seringkali mengingatkan kami untuk membaca semua kalimat pengingatan dengan memperhatikan tiap kata dan kalimatnya.

Itu menyadarkanku, betapa pentingnya kesadaran hadir di saat atau waktu yang sedang kita jalani.

Itu sungguh membekas untukku, sehingga aku mencoba untuk mengaplikasikannya pada kegiatan sehari-hari, selain untuk membaca. Awalnya pun aku meremehkan itu, tapi karena hanya dengan memperhatikan rupanya cara hidup dan pandanganku mulai berubah.

Pada saat melakukan sesuatu, aku berusaha untuk sadar sepenuhnya pada saat itu, di waktu itu, dengan memperhatikan apa yang ku lakukan. Seperti saat mencuci baju, aku memperhatikan tiap gosokannya dan dapat mengendalikan tekanan tangan pada gosokan agar tidak cepat pegal. Atau ketika menyapu lantai rumah, aku memperhatikan sapuan yang perlahan dan sapuan yang cepat. Aku merasa ketika menyapu lebih perlahan, tidak banyak angin yang dihasilkan, sehingga debu debu yang disapu tidak lari terlalu jauh. Berbeda ketika menyapu dengan cepat (terlepas dari banyak yang melakukan itu atau tidak, setidaknya aku belajar sesuatu, hahaha).

Itu adalah hal-hal sederhana yang aku lakukan pada tiap aktivitas, namun dampaknya sangat besar untukku. Dengan melakukannya, aku semakin dapat mengendalikan diri serta kesabaranku.

Overthinking? Itu bukan lagi pengganggu (Tidak, sebenarnya masih, sedikit).

Dulu aku juga merasa bahwa waktu itu terbatas dan kita berkejaran dengannya. Seperti, saat mengerjakan tugas.

Saat mengerjakan tugas, aku selalu merasa bahwa tidak ada waktu untuk bersantai dan melakukan hal lain. Aku mengabaikan rasa nyaman dan membiarkan diriku larut dalam kepusingan.

Karena kurang mengistirahatkan pikiran, aku merasa bahwa tugas-tugasku menjadi lebih berat, sebab tidak dapat menemukan jawaban yang tepat.

Aku pun mulai menyadari bahwa, tidak ada salahnya mengambil 5 atau 10 menit untuk diam dan bersantai. Dalam waktu itu, aku berusaha untuk tidak memikirkan atau mengkhawatirkan apapun. Dan meyakinkan diriku bahwa, 10 menit untuk diam dan santai itu hanya sebentar.

Sejujurnya, bisa saja melakukan lebih dari 10 menit, tapi aku selalu takut terlena dan keasyikan bersantai. Dan saat fokus dalam 10 menit untuk bersantai dan mengistirahatkan pikiran, aku merasa itu sudah sangat cukup, jika tidak melakukan apapun dan jika aku sadar sepenuhnya pada waktu itu.

Hal yang sama pada saat beribadah. Aku membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk satu waktu ibadah. Jika dikali 5 kali dalam sehari, itu tidak akan sampai berjam-jam. Dan justru lebih banyak waktu yang digunakan untuk pekerjaan duniawi.

Hal yang tepat ketika menyadarinya, sebab aku dapat melakukan ibadah dengan lebih khusyu’ dan nikmat.

Dan penting bagiku untuk mengerjakan sesuatu dengan pikiran aku harus melakukannya dengan tenang, sehingga pikiranku tidak lelah dan tugas yang aku hasilkan menjadi lebih baik.

Mungkin itu dulu yang aku bagikan. Jika ada kesempatan lain, dan jika terpikirkan, aku akan membagikan cerita lain.

Dari hal-hal kecil yang aku hadirkan dalam tiap aktivitas keseharian, membuat diriku yang awalnya teledor dan tergesa-gesa, kini bisa lebih santai tapi tetap teliti. Aku yang ceroboh bisa menjadi lebih berhati-hati. Dan aku yang dulu selalu terburu-buru, kini menjadi lebih tenang dan bisa menikmati waktu singkat untuk bersantai.

Mungkin ungkapan yang paling menggambarkan itu ialah, “Aku dapat mengendalikan diriku dengan lebih baik. Sehingga aku dapat melakukan apapun dengan sadar dan penuh kendali. Dan itu tidak lagi menyulitkan diriku.”

Itu self improvement versiku, bagaimana dengan versimu?

Sampai jumpa di tulisanku yang lain.

Komentar

  1. Bagus tulisannya, izin menulis di threads aku bahwa "fokus pada suatu hal yang sedang dikerjakan untuk hasil yang terbaik"

    BalasHapus
  2. Kak, aku juga sedang dalam fase menyadari diri sendiri (mungkin belum sepenuhnya) dan makin aku sadar, makin aku tahu bahwa selama ini aku jauh dari diriku sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai kak. Terima kasih sudah mampir.
      Gak apa-apa. Udah sadar itu udah bagus kok. Mungkin sebenarnya kita ngga jauh dari diri kita sendiri. Tapi karena terlalu abai.
      Hayu, mulai dari perhatian kecil ke diri sendiri. Mulai dari saat kita bangun tidur, tubuh kita perlu minum, maka minumlah untuk memberi perhatian ke tubuh kita.

      Hilang semangat ga apa-apa. Yang penting berusaha.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Untuk Merasa Cukup

Jalan Cerita yang Ditulis Tuhan dan Dipilih Olehku