Jalan Cerita yang Ditulis Tuhan dan Dipilih Olehku
Halo! Terima kasih sudah mampir. Tulisan ini merupakan tulisan pertamaku lagi setelah sekian lama tidak menulis. Yang membuatku kembali hanya lah karena aku merasa terlalu banyak membuang waktu dengan hal yang kurang penting. Seperti scrolling sosial media. Banyak waktu habis untuk menikmati tontonan instan itu. Dan ya, itu sangat melelahkan sebenarnya.
Dalam tulisan ini aku ingin berbagi dengan teman-teman semua. Terutama untuk kamu yang sedang merasa sendiri karena memilih untuk memeluk beban dari takdir yang kamu pilih. Sesungguhnya, salah dan benar hanya kamu yang bisa melihatnya. Orang lain hanya memiliki opini dari apa yang sedang kamu jalani itu. Maka, tegar dan bertanggung jawab lah atas apa yang kamu pilih itu.
Aku tahu rasanya ketika kita memiliki sebuah cerita yang sangat amat ingin dibagikan ke orang lain terutama orang terdekat, namun ada hal-hal yang membuat kita tidak bisa membagikannya. Apapun itu alasannya, aku tahu kamu sudah melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan.
Memang berat. Tapi semoga kamu menemukan sesuatu yang bisa meringankan sedikit beban di hatimu.
Penulis ini adalah seorang perempuan.
Seorang perempuan yang sudah lama memilih untuk lepas dari tanggungan keluarga dan memilih untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan keluarga. Apakah pernah sekalipun aku berbalik dan meminta pertolongan mereka?
Tidak.
Bahkan saat kondisi terbawah pun aku memilih untuk memeluknya sendiri, tanpa membiarkan mereka tahu. Hal ini terjadi karena egoku sendiri.
Aku adalah tipe orang yang sekali memutuskan, maka akan ku pegang itu sampai akhir, bahkan sekalipun itu hal yang sulit. Dan itu lah yang menyebabkan kenapa aku tidak mau kembali ke pelukan nyaman keluargaku. Karena, di hari pertama aku memutuskan untuk lepas dari tanggungan mereka, saat itu lah aku memutuskan juga untuk tidak menerima apapun dari mereka.
Ini adalah ego yang tumbuh dari perilaku dan sikap keluarga kepadaku selama hidup. Dan aku berterima kasih, karenanya, aku tidak perlu lagi merepotkan mereka. Walau gagal sekalipun, aku tidak bersedih karena tidak ada satupun yang ku repotkan karena kegagalanku. Setidaknya itu yang ku pikirkan.
Kini aku menghadapi sesuatu yang lebih besar, dan lebih besar pula bagiku untuk menyimpannya rapat-rapat dari keluargaku. Kalian bebas menghayalkan apapun, seliar apapun imajinasi kalian tentang apa yang sedang aku alami saat ini, aku mengizinkannya.
Aku percaya bahwa Tuhan menyiapkan kemungkinan tak terbatas untuk tiap makhluknya. Dan aku hanya makhluk yang memilih salah satu dari kemungkinan yang Dia siapkan itu. Hatiku merasa berat, awalnya pun aku bertindak gegabah dan hampir mencelakai diriku sendiri. Sampai seseorang hadir dan bersedia memelukku dengan aman, dan saat itu lah aku merasa bisa menegakkan kepalaku lagi. Sampai hari ini, dia masih merangkul tubuhku untuk berjalan. Dan dia adalah alasan terbesar mengapa aku masih bisa hidup.
Walau begitu, terkadang aku masih bisa merasakan kesepian. Lingkup amanku terasa amat sangat kecil, dan tidak lagi ku rasakan kebebasan untuk keluar.
Tapi setidaknya, aku masih bisa bernafas, aku masih hidup. Walau dalam sudut pandang diriku semua terasa berat, tapi hidupku masih berlanjut.
Mungkin singkat saja tulisan ini. Sejujurnya, aku juga bingung mau menulis apa lagi. Semoga tulisan singkat ini bisa sedikit memberikan percikan untukmu.
Salam Hangat,
Nara Arta.
Apa pun yang bisa diperjuangkan, maka bisa dijadikan kekuatan untuk terus berjuang dan bertahan
BalasHapus