Belajar Untuk Merasa Cukup
Halo lagi dariku!
Saat mengklik tombol "postingan baru" apa aku sudah memiliki ide untuk menulis? Tentu saja tidak. Aku bahkan baru saja browsing di Google untuk mencari pekerjaan freelance untuk menambah pemasukan. Lucu rasanya aku yang dulu memang bercita-cita menjadi freelance tapi tak memiliki niat dan aksi yang konsisten untuk menjadi itu.
Saat ini pun aku menimbang apakah perlu menjadi PNS sesuai keinginan orang tuaku atau tidak. Bahkan hampir tiap malam aku mengeluhkan jalan yang ku pilih ini. Tapi kesadaran membawaku kembali, bahwa yang ku inginkan sejak dulu bukan menjadi orang hebat atau orang kaya, tapi menjadi anak yang mandiri dan tidak merepotkan keluarga.
Aku sudah menjadi itu, tapi mungkin dulu aku terlalu naif karena tidak bercita-cita menjadi orang kaya, haha. Sekarang aku benar-benar merasa struggling dari sisi finansial. Tapi setidaknya, tidak ada orang yang aku repotkan untuk masalah hidupku ini.
Menjadi freelance adalah cita-cita ku, orang yang tidak suka terikat dengan sebuah instansi, apalagi negara. Mempunyai waktu yang bebas dan fleksibel, dan bisa pergi kemanapun yang aku mau. Tapi di sini lah aku, memakai baju tidur dan belum mandi karena terlalu dingin, tidak bisa keluar karena tidak memiliki tujuan mau pergi kemana. Dan ditambah, kondisi tubuhku memang sedang lemah dan rentan untuk pergi terlalu jauh.
Mungkin itu cuma ku jadikan alasan, mungkin sebenarnya aku bisa saja pergi. Tapi aku memilih untuk tidak pergi karena sedang merasa lemah.
Jadi, apa yang ku lakukan saat ini adalah salah satu upaya untuk menabung portofolio tulisan. Aku sudah sejak lama ingin menjadi penulis, dan satu langkah untuk memulai adalah dengan menulis sesuatu.
Aku tidak menunggu ide datang. Bahkan beberapa paragraf diatas tidak ku rencanakan sama sekali. Jariku hanya menterjemahkan apa yang muncul di kepalaku.
Sebenarnya, tadi niatku ialah membuka catatan lama yang ku tulis di memo atau buku diary, dan menjadikan catatan-catatan itu sebagai topik di blog ini. Anggap saja tulisan diatas ialah pembuka dari topik yang mau ku tuliskan, hehe.
Aku membuka catatan yang ku tulis pada 28 Juni 2022, jam 21.30 Waktu Indonesia Tengah.
Lupa tepatnya apa yang mempengaruhiku sehingga menuliskan catatan pendek itu. Biasanya aku menulis itu setelah memperhatikan sesuatu, dari hasil memperhatikan itu otakku menterjemahkan dan jadi lah sebuah naskah, yang akhirnya jadi lah catatan pendek itu.
Catatan itu kurang lebih membahas tentang Belajar Untuk Merasa Cukup. Hmm, apa waktu itu aku baru saja menerima keluh kesah temanku? Atau habis melihat orang kaya yang merasa tidak cukup dengan uangnya? atau habis melihat seorang yang sudah memiliki Iphone 10 dan menginginkan Iphone 11?
Perumpaan terakhir mungkin bisa terjadi, tapi bukan itu seriesnya. Jujur, aku tidak mengerti mengenai series iphone yang bagus. Aku hanya menulisnya karena sedang berusaha mengingat saja bagaimana catatan pendek tentang Belajar Untuk Merasa Cukup itu tercipta.
Yang aku tulis di dalam memo itu adalah, "Boleh penasaran, tapi jangan terlalu mau tahu. Apa yang sudah didapat, ya terima saja. Belajar Untuk Merasa Cukup."
Kemudian dilanjutkan paragraf di bawahnya, "Tidak perlu melihat dan menginginkan bagian yang dimiliki orang lain. Masing-masing mempunyai bagiannya sendiri. Terima lah itu, dan maksimalkan."
Baik, sepertinya aku mulai mengingat sedikit tentang catatan ini. Tapi izinkan aku melanjutkannya, masih ada 2 paragraf pendek lagi.
"Tidak perlu takut dan khawatir karena berbeda, karena tiap dari kita yang memang berbeda-beda. Kita dibekali dengan DNA yang berbeda-beda. Dan tiap dari kita memiliki keunikan masing-masing. Rasakan dan manfaatkan."
Dan terakhir, "Ke orang lain pun jangan seenaknya. Menghina bukan berarti lebih baik, justru sangat buruk."
Haha, yang terakhir itu mungkin agak personal. Dan sepertinya aku mulai mengingat kenapa paragraf terakhir itu muncul. Saat itu aku sedang kesal dengan seseorang, karena dia bercerita kepada orang lain untuk membanggakan diri, tapi terselip kalimat-kalimat seolah orang lain tidak lah lebih hebat dari dia. Bahwa, apa yang dia lakukan adalah langkah yang paling benar, sementara orang lain salah hanya karena lebih lambat mencapai sesuatu.
Aku tidak terima, tentu. Karena bagiku, tiap orang mempunya jalannya sendiri untuk mencapai titik B dari titik A. Tuhan menciptakan banyak kemungkinan untuk 1 makhluk ciptaannya. Dan kuasanya bisa menjadikan seseorang itu menjadi lebih bijak atau lalai.
Tapi setelah menulis ini, rasanya aku berpendapat seperti itu mungkin hanya karena tidak suka dengan nada bicaranya yang terlalu sombong. Saat ini aku berpikir dia mungkin saja bermaksud untuk mempermudah jalan mereka dengan memberitahu ada jalan yang lebih baik. Tapi tetap saja, aku tidak suka dengan nada kesombongan itu.
Mari move on dari paragraf terakhir itu, cukup ambil baiknya menurut kalian saja yaa.
Di Paragraf pertama dan kedua dari tulisan itu aku ingat menuliskannya karena ada seseorang yang sudah mendapatkan hasil yang menurutnya sudah bagus, tapi goyah ketika mengetahui ada orang yang mendapatkan hasil yang lebih bagus. Saat itu aku berpikir, "Seenggaknya kan udah lulus ya, ngga perlu ngulang mata kuliah. Kenapa sih malah bete."
Sebelum mengetahui hasil milik orang lain yang lebih bagus daripada miliknya, dia sudah senang, bahkan membagikan kebahagiaannya itu kepadaku. Dia bahkan bertanya hasil ujianku, yang saat itu berada di bawahnya, tapi masih lulus tentunya, dan dia masih senang-senang saja ku perhatikan. Tapi begitu melihat hasil teman dekatnya lebih bagus, kesenangan itu pudar menjadi kekecewaan. Dan saat menulis ini aku mulai berpikir apakah orang ini senang jika dia mempunyai hasil yang lebih bagus dari pada orang lain?
Apakah kadar keberhasilan kita itu diukur saat itu sudah mengungguli orang lain?
Maka dari itu muncul lah paragraf ketiga, bahwa sesungguhnya kita sudah dibekali dengan DNA yang berbeda-beda. Yang memiliki keunikan tersendiri. Bahwa tiap kesuksesan dan keberhasilan seseorang tidak pantas dibandingkan dengan satu dan yang lainnya. Dan bahwa, sebenarnya mungkin peringkat atas dan bawah itu hanya dibuat agar orang-orang bersaing, bukan bersinergi.
Hmm, pantas saja di dunia ini masih banyak yang merasa gagal. Karena nyatanya, keberhasilan itu dilihat saat kita mendapatkan lebih dari apa yang didapatkan orang lain.
Dan kembali ku ingat bagaimana seluruh tulisan ini muncul karena diriku yang masih merasa belum menjadi apa-apa. Mungkin aku tidak perlu merasa harus menjadi sesuatu, mungkin aku hanya perlu mengingat kembali track record kehidupanku. Dan mengingat seperti apa diriku yang dulu, dan melihat diriku yang sekarang. Agar aku tetap tahu diri untuk melanjutkan kehidupan ini.
Tapi tentu aku masih belum tenang soal finansial. Untuk ini, doakan aku yaa, semoga aku bisa mencapai ketenangan finansial itu, tentu dengan caraku sendiri.
Salam hangat,
Nara Arta
Masih anget tulisannya..Menyegarkan ingatan tentang pentingnya untuk merasa cukup. Bukan merasa cukup baik tapi pentingnya merasa cukup untuk tidak hedon.
BalasHapusLevel tertinggi dari mencari duit adalah cita-cita untuk membuat proyek yang bermanfaat untuk kehidupan.
HP cukup android biasa, Laptop cukup asal bisa ngetik dan browsing, pakaian dan asesoris cukup biasa aja tanpa perlu brand yang harganya selangit, tapi duit gak akan pernah cukup berapapun untuk selalu kita harapkan, karena kehidupan ini masih butuh banyak sekolah untuk rakyat miskin, butuh banyak fasilitas kesehatan untuk yang lemah, butuh lahan seluas-luasnya untuk produksi pangan berkelanjutan.
Duit dari mana itu semua? Ya dari kita..