Tenang Untuk Mengendalikan Diri, Mengendalikan Diri Untuk Tenang
Hai, selamat datang di blog pertamaku, terima kasih sudah
mampir. Semoga semakin banyak orang-orang yang mampir kemari.
Bagaimana kabarmu? Mungkin saat ini sedang lelah fisik dan
mental, tapi teruslah berjalan selagi kamu masih hidup.
Di tulisan pertama yang aku publish ini, ingin rasanya
berbagi cerita tentang pengalaman yang memberikan hikmah untuk diriku sendiri.
Yah, sebenarnya aku hanya bingung saja ingin membuat tulisan apa, hehe.
Baiklah, langsung saja ke ceritaku.
Pernah suatu hari saat sedang berada di tempat fotokopi untuk
memperbanyak hasil tugas-tugasku. Pada saat itu cukup ramai pengunjung,
rata-rata mahasiswa yang datang dengan keperluan yang serupa denganku. Sambil
menunggu tugas-tugas yang difotokopi, aku hanya diam memperhatikan barang-barang
di etalase tanpa menunjukkan minat, dan sesekali melirik kertas-kertas yang
keluar dari mesin fotokopi.
Tak lama kemudian dari arah luar, datang seorang wanita
dengan pakaian compang camping dan rambutnya yang urakan. Beberapa petugas
menunjukkan gerak tak acuh, ekspresinya cukup menunjukkan bahwa mereka tidak
nyaman dengan kehadiran wanita itu.
Secara tak sadar aku yang kurang kerjaan pun
memperhatikannya. Dia berdiri sambil menggaruk kepala, pandangan matanya
menyapu seluruh alat tulis yang terpajang di dalam etalase, hingga berhenti
pandangan matanya pada bekas solasi bening. Ia meraihnya dan sekejap kemudian benda
itu terlempar dan menghantam wajahku cukup keras.
Aku mematung sambil menatapnya, dengan kedua alis yang naik
karena sedikit terkejut, kulit wajah yang terkena benda itu terasa sedikit
berdenyut dan agak kebas.
Kemudian wanita itu terkekeh kecil dan berbalik pergi sambil
memanggul karung yang berisi gelas-gelas plastik. Beberapa saat kemudian aku
dan petugas fotokopi saling melirik, dia nampak sama terkejutnya denganku. Dan
sedetik kemudian keluar tawa canggung dari kami berdua.
Petugas lainnya yang juga melihat hal itu kemudian
menyeletuk, “Mungkin itu orang gila.” Dan ditimpali oleh petugas lainnya yang
mengiyakan.
Tak ada yang menanyakan bagaimana keadaanku. Tapi bukan itu
pointnya.
Pada saat sebelum kejadian, kepalaku sedang sangat pusing dengan
tugas-tugas kuliah yang banyak dan waktu pengumpulannya yang mepet. Dan pada
saat itu pikiranku cukup pusing karena terbatasnya dana yang ada di dompet
untuk membeli kebutuhan di mata kuliah. Di tambah, rasa tertekan karena merasa
menyiakan kesempatan berkuliah.
Aku merasa seharusnya tidak usah kuliah jika mengikutinya
dengan setengah hati dan tanpa minat, itu hanya akan membuat dana yang dikeluarkan
orangtua menjadi sia-sia. Dan pada akhirnya merasa bingung harus jadi apa nanti
setelah lulus.
Tekanan tersebut membuatku merasa sedikit sesak dan pusing.
Di saat seperti ini aku bisa menjadi sangat sensitif, dan bila tidak bisa
menahannya akan sangat memungkinkan bila suatu hal dapat memicu amarah.
Tapi, begitu bekas solasi itu menghantam wajahku, seketika
semua beban pikiran tersebut hilang. Rasanya tidak terlalu sesak, pusing
sedikit terurai, dan aku merasa lebih lega dari sebelumnya.
Satu hal yang ku pahami setelahnya ialah Tuhan sedang
menyadarkanku, Dia membangunkanku dari pikiran-pikiran yang tidak penting namun
dapat merusak diriku.
Dan lagi, aku mulai berfikir bahwa respon bisa sangat
mempengaruhi kondisi. Selama hidup, aku hanya mengetahui beberapa respon.
Yang pertama, saat merespon sesuatu dengan agresif, yaitu
amarah dan ucapan dari keegoisan.
Aku pernah melakukannya, banyak kali. Rasanya agak malu
menceritakan detailnya, jadi akan ku ceritakan secara garis besarnya saja. Pada
saat itu kondisiku juga sedang tidak baik, beban mental yang ditanggung cukup
berat, dan aku tidak pernah mengeluarkannya (dengan curhat dll). Tentu saat
seperti ini aku sadar bahwa apapun yang orang lain katakan atau lakukan bisa
saja memicu amarahku, sehingga pada saat ini terjadi aku lebih memilih untuk
menjauhi orang lain, dan sebisa mungkin membatasi interaksi dengan lingkungan
sosial.
Jujur saja, aku terlalu takut untuk menyakiti perasaan orang
lain.
Namun, pada saat itu aku tidak sengaja membaca postingan dari
seseorang yang ku kenal, dan aku sadar betul bahwa yang dia bahas adalah
diriku. Aku sungguh tidak suka jika orang lain merendahkan dirinya untuk
memotivasi seseorang, terlebih untuk memotivasi diriku. Maka saat itu pun aku
berusaha untuk menghibur dirinya, mengatakan bahwa dia tidak seburuk yang dia
kira.
Dan sesaat kemudian dia mengatakan bahwa seseorang telah
membocorkan ceritaku. Dan, meledak lah emosiku di dalam.
Entah karena lelah mental, atau mengetahui ceritaku yang
bocor, atau karena ketidak sukaanku pada sikap orang ini yang merendahkan
dirinya. Pada saat itu aku hanya merasa emosi di dalam diriku sangat ingin
keluar. Aku tidak tahan dengan itu.
Aku mengakhiri percakapanku dengan permintaan maaf, kemudian
aku menghubungi orang yang membocorkan ceritaku. Saat itu emosiku meluap-luap.
Aku marah sambil menangis. Di dalam telfon itu aku tidak memberikannya
kesempatan untuk berbicara. Hingga akhirnya mungkin dia muak dan mematikan
telfon itu secara sepihak.
Apa yang terjadi setelahnya? Aku tidak merasa lega sama
sekali, yang ku rasakan hanya penyesalan dan rasa takut. Aku sangat menyesal
karena memarahinya, dan takut pada amarah Tuhan karena telah berbuat durhaka.
Aku juga tidak tahu apakah saat itu aku marah karena merasa
terkhianati atau hanya karena sudah tidak kuat menahan lelah mentalku. Tapi,
aku semakin merasa terbebani setelahnya. Seperti tertambah beban yang
bertengger di kepalaku.
Setelah perenungan dari banyaknya ingatan tentang respon
agresif ku terhadap sesuatu, aku menyadari bahwa saat itu aku tidak mampu
menangkap apapun dan hanya ingin menyampaikan apa yang ku pikirkan. Apapun yang
orang lain katakan tidak akan bermakna apa-apa. Sungguh sikap agresif itu
seperti memblokir semua suara yang mau masuk ke telingaku. Dan pada akhirnya
tidak ada masalah yang selesai, hanya menambah beban. Dan imageku di mata orang
lain semakin buruk jadinya.
Seiring berjalannya waktu, dengan penyadaran-penyadaran, aku
mulai bisa mengendalikan responku terhadap sesuatu. Bisa dibilang, aku perlahan
mulai bisa bersikap lebih tenang. Ini adalah respon kedua yang aku ketahui.
Yang ketiga adalah bersikapn cuek. Aku banyak melakukannya juga, tapi aku akan
membahas respon yang kedua, karena hal itu membuatku sadar mungkin ini lah yang
harusnya dilakukan banyak orang dalam menyikapi suatu hal.
Pada saat itu temanku sedang sangat stress, mungkin hampir
masuk fase depresi, akibat tekanan dari lingkungan sekitarnya. Dia sedang dalam
tahap pengerjaan skripsi dan seperti yang kita tahu bahwa mahasiswa yang dalam
tahap tersebut sebagian besar akan mengalami stress, dan hal tersebut mungkin
saja membuat mereka sangat sensitif.
Aku yang terlebih dahulu terbebas dari tekanan itu pun cukup
memahami apa yang dapat meruntuhkan pertahanan diriku. Cukup sederhana namun
sangat berdamage. Yaitu, perkataan.
Aku merasa orang-orang bisa saja mengatakan sesuatu yang menurut
mereka biasa, tapi bagiku itu sangat mengganggu. Atau berniat memberikan
dukungan namun ternyata malah memberikan beban tambahan pada pikiran. Gambaran
ini lah yang terjadi padaku, dan juga pada kasus temanku.
Dia adalah seseorang yang entah kenapa jalannya begitu
berliku-liku dan naik turun. Agak berat baginya untuk ditempuh. Pada saat itu
dia sudah tidak lagi tinggal di kos-kosan dan kembali pulang ke rumahnya. Awalnya
pun dia tidak mau karena terlalu repot jika harus pulang balik dari rumah ke
kampus, yang memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan untuk pergi dan
satu setengah jam perjalanan untuk pulang, belum lagi macet dan lain-lainnya.
Ditambah waktu yang banyak habis untuk menunggu dosen atau
staf di kampus untuk mengurus ini dan itu. Plus, di rumah bukannya didukung
malah ditekan. Itu yang ku ketahui sebagai penyebabnya tidak ingin pulang ke
rumah.
Suatu hari, dia hendak pergi ke kampus dari rumahnya, dia
pun berangkat pagi-pagi karena mau tidak mau harus mengikuti jadwal adiknya.
Setelah di antar ke satu lokasi, dia pun menunggu jemputan temannya. Aku tidak
tahu apa yang terjadi, tapi pada saat itu dia mengirimkan pesan berisi
keluhannya. Dan rupanya, teman yang hendak menjemputnya bangun kesiangan. Mau
tak mau dia pun menunggu lagi sekitar satu jam.
Pada saat itu dia mengutarakan, “Entah apa lagi yang akan
terjadi nanti.”
Aku yang merasa dia mungkin saja sedang berprasangka buruk
pun langsung mengatakan “Berprasangka baiklah. Kalau tidak bisa, ya tidak usah
berprangsangka apa-apa.”
Sontak dia pun mengirimkan voice note balasan yang kurang
lebih seperti, “Andai kau tahu betapa baiknya prasangkaku setiap saat.” Dengan
suara yang sedikit naik, alarm kepekaanku menangkap kalau dia mungkin saja
tersentil dengan perkataanku
Aku pun sedikit terpancing awalnya. Syukurlah jempol ini agak
delay saat mengetik, tiga kali menghapus untaian kata dan akhirnya aku
mengirimkan pesan, “Ok, saya salah bicara. Waktu dan tempat dipersilahkan untuk
mengeluarkan unek-unek.”
Aku mengatakan hal tersebut karena takut dia akan lebih tersinggung,
maka dari itu aku mempersilahkannya untuk mengeluarkan semua unek-uneknya,
terutama setelah aku mengingatkannya untuk berprasangka baik. Dan aku tidak
masalah dengan itu karena cukup mengenal sifatnya.
Sebelum itu aku pernah menjadi sosok yang keras, sehingga
membuat dia mungkin saja merasa tidak nyaman. Ego menguasai dan aku tidak bisa
meredamnya. Dan canggung lah hubungan kami saat itu. (Tapi ini dari sudut
pandangku, aku tidak tahu bagaimana dengannya.)
Setelah mempersilahkannya mengeluarkan unek-unek, dia pun
membalas lagi dengan voice note. Dari suaranya yang bergetar aku menyadari perkataanku
tersebut mungkin membuatnya tersentuh, dia mengatakan, “Jangan buat saya
menangis.”
Setelah itu aku meminta maaf karena sudah salah berbicara.
Dan dia mengatakan tidak masalah karena dia sudah merasa seperti itu sejak
beberapa minggu yang lalu.
Ku ingatkan, ini hanya lah pandangan pribadi berdasarkan apa
yang telah dialami.
Mungkin sulit bagi kita untuk merespon sesuatu itu dengan
tenang, namun hal ini menjadi sulit karena ego yang menguasai. Kita terlalu
mudah tersinggung sehingga itu membuat respon kita menjadi agresif, dan hal
tersebut jika disadari sebenarnya juga berdampak pada orang lain.
Mari lupakan sejenak tentang, “Jangan pedulikan orang lain
dan suarakan pendapatmu.”
Aku merasa kalimat itu hanya membuat sebagian orang menjadi lebih egois bila ia tidak memiliki kecerdasan untuk mengatur emosinya. Tak ada salahnya memang, tapi aku melihat sebagian orang yang mengaplikasikan kalimat itu menjadi seseorang yang apatis, hingga membuat orang-orang tak lagi bisa menjaga perasaan satu sama lain. Hal tersebut membuatku berpikir, mungkin kalimat itu tepat untuk orang yang dapat mengendalikan dirinya, dan memiliki kecerdasan untuk mengatur emosi.
Banyak cara
untuk membela diri dan menyuarakan pendapat. Namun tanpa sadar, banyak kalimat
atau reminder yang beredar justru memicu kita untuk bertindak agresif dan
egois. Dan hal ini memicu lebih banyak kebencian satu sama lain, sehingga
membuat toleransi dan kesatuan terpecah. Banyak yang menjadi bermusuhan dan saling membenci.
Apakah ini yang diinginkan?
Sekali lagi ku ingatkan ini hanya pendapat pribadi. Dari sini mungkin kalian menyadari bahwa aku benar-benar takut untuk mengungkapkan pendapatku. Haha.
Mengenai kalimat tadi, itu hanya renunganku saja berdasarkan apa yang
yang ku saksikan di kehidupan sekitar. Dan rasanya hal itu cukup mengganjal
karena aku belum pernah mengutarakannya.
Aku pun sering kali berandai-andai, bagaimana jika
orang-orang menyelesaikan ketegangan dengan rekannya sambil duduk santai dan
mengobrol, melemparkan canda tanpa singgungan dan ketersinggungan, bagaimana
jika seorang anak dimarahi tanpa emosi, bagaimana jika orang-orang saling
mengalah dan lebih pengertian, bagaimana jika orang-orang menyuarakan
pendapatnya tanpa tegang urat dan bagaimana jika suara-suara itu tidak hanya
menjadi angin lalu tapi diterima dan diproses.
Dunia seperti itu begitu nyaman dalam khayalku. Ya, dalam
khayalku. Sedikit info untuk para pembaca, aku besar di lingkungan yang cukup
keras. Sehingga hal-hal yang ku khayalkan tadi adalah mimpi terindah yang entah
bisa terwujud atau tidak.
Aku sedikit mengira-ngira, tidak, aku hanya overthinking. Mungkin di antara pembaca ada yang mulai perpendapat lain. Tapi boleh kah untuk menyimpannya dulu? Baca lah tulisanku dengan netral dan tanpa penilaian terlebih dahulu, agar kamu mengerti apa yang ingin aku sampaikan. Tentu setelah membaca kamu boleh berpendapat sepuas hatimu. Dan aku akan sangat berterima kasih untuk pendapatmu.
Aku merasa bahwa kita perlu mengambil penuh kendali diri,
untuk diam dan mendengarkan jika ingin merespon dengan tenang. Mungkin sulit,
tentu, karena kita telah terbiasa untuk merespon dengan keras. Tapi,
berusahalah agar tidak hanyut terbawa arus emosi. Meredamnya perlu kesabaran dan
kelapangan untuk menerima. Tapi, respon kita mungkin saja bisa lebih baik nanti.
Mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah langkah tepat untuk dilakukan jika ingin ketenangan dalam diri. Jujur terhadap perasaan dan mengungkapkannya, serta tidak memendam-mendamnya.
Meminta maaf dan mengakui kesalahan awalnya cukup
sulit, rasanya berat sekali. Tapi, setelah sekali dua kali hingga seterusnya,
melakukan hal itu tidak lagi menjadi berat. Sadarlah yang membuat itu sulit
dilakukan hanya karena ego dan rasa gengsi, dan tentu saja karena merasa benar.
Akan ada suara yang mengatakan "untuk apa aku meminta maaf, bukan aku yang salah."
Benar, tapi ketika terjebak dalam suatu masalah kita perlu banyak merenung. Memutar kembali memori-memori di masa lalu. Dan mengingat tingkah laku dan perkataan kita dahulu.
Sebagai contoh, kita sebut saja A dan B.
A begitu sensitif dengan B, dia seringkali emosi saat berinteraksi dengan B. B merasa bingung karena dia tak melakukan kesalahan apapun, bahkan saat itu dia berusaha menunjukkan rasa perhatiannya pada A. Namun oleh A direspon dengan agresif.
B sangat kebingungan hingga merasa sakit hati. Dia bahkan tidak betah lagi tinggal di sekitar A.
Aku yang menyaksikan langsung dan mengingat bagaimana B bertahun-tahun lalu menjadi sosok yang menyebalkan bagi A berpikir bahwa, mungkin saja A belum beranjak dari ingatannya saat B menjadi sosok yang menyebalkan. Hingga apapun yang dilakukan oleh B tampak salah di matanya.
Pada akhirnya A dan B mempunyai hubungan yang canggung, dengan rasa tidak suka/benci yang tak kunjung lepas dari hati mereka. Bahkan saat berdebat pun, aku merasa mereka hanya mengungkit masalah yang telah berlalu, dan tidak fokus untuk menyelesaikan masalah mereka pada saat itu.
Aku ingin membahas tentang itu secara terpisah, "Menyelesaikan Masalah di Masa Kini Tanpa Membawa Masalah di Masa Lalu." Sebab aku tidak ingin catatan ini menjadi lebih panjang. Hahaha.
Aku mulai melakukannya, dan merasa dunia di sekitarku menjadi baik-baik saja.
Pada suatu malam, aku merasa sangat gelisah, mengingat semua kesalahanku di masa lalu. Mengingatnya membuat hatiku tidak nyaman, rasa bersalah, malu, dan menyesal berpadu menjadi satu. Dan itu membuatku sangat gelisah, hingga rasanya ingin menghilang saja dari semuanya.
Saat itu aku langsung mengirimkan pesan permintaan maaf pada semua orang, yang aku rasa pernah ku buat sakit hati atau tidak nyaman. Aku mengirimkannya dengan tanganku yang bergetar, dan sesaat setelahnya merasakan sedikit kelegaan. Tapi aku masih tidak bisa tidur hingga dini hari.
Saat menerima pesan balasan, yang mengatakan bahwa "aku memaafkanmu.", "hah, baru saat ini kamu mengatakannya?", "tidak apa-apa, aku tahu kamu tidak bermaksud mengatakannya.", "hei, itu sudah bertahun-tahun yang lalu." dan lain sebagainya, aku merasakan kelegaan. Sesak yang kurasakan seperti terurai. Dan aku menjalani hari ke depannya dengan lebih tenang.
Walaupun masih terbayang rasa malu dan bersalah. Hingga saat ini aku masih berusaha berdamai dengan itu.
Aku juga mulai untuk menjeda responku beberapa saat sebelum benar-benar mengatakan sesuatu, untuk belajar mengendalikan diri dan menjadi lebih tenang. Aku juga banyak mensimulasikan respon-respon di kepalaku saat berinteraksi dengan orang lain (Mungkin akan ku bahas juga di bahasan lain, aku takut terlalu jauh keluar dari topik di tulisan ini. Dan mengenai ini, aku tidak tahu apakah itu metode yang tepat atau tidak. Tapi sejauh ini, aku berhasil melakukannya dengan baik), sehingga dapat memutuskan sesuatu dengan lebih sadar dan dapat berkomunikasi dengan lebih baik. Aku pun merasa dapat melakukan sesuatu dengan lebih maksimal.
Mau kah kamu melakukannya juga? Tentu aku tidak memaksamu
jika tidak bisa memakai caraku, tapi kamu bisa saja menjadi seseorang yang
membawa kebaikan pada lingkungan sekitar jika bisa bersikap lebih tenang.
Aku mengalami proses ini cukup lama, dan mentalku bagai
terkuras nyaris habis. Semua pemahaman, pandangan, dan banyak hal dari diriku
seperti runtuh. Seolah Tuhan ingin menghilangkannya dariku.
Semakin lama aku merasa bahwa kehidupan ini hanya perlu dijalani
dengan terus bergerak, dan ketika diam maka kita akan terseret oleh waktu.
Bagaimana kah rasanya diseret mungkin kalian mengetahui, sakit kan? Iya,
perumpamaan itu yang aku dapatkan setelah proses panjang ini.
Namun aku sadar tidak akan berhenti di sana. Waktu akan
terus maju dan aku merasa harus terus berjalan. Apapun yang terjadi, dan apapun
hasilnya aku tidak tahu. Yang terpenting adalah aku tidak berhenti dan menyerah
pada diriku sendiri, walau sempat merasa muak pada diri sendiri.
Dan satu hal lagi, kita mungkin saja tidak harus bersaing
untuk menunjukkan siapa yang lebih baik.
Akhir kata, terima kasih telah membaca tulisanku sampai akhir. Masih banyak yang harus ku pelajari untuk menyajikan tulisan yang layak untuk dibaca orang-orang. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.
Komentar
Posting Komentar