Rutinitas Pagi

Hi, apa kabar? Aku harap kalian sehat dan dalam kondisi yang baik. 

Hampir sebulan aku menelantarkan blogku yang seumur jagung ini. Untungnya di grup yang aku ikuti ada event menulis sehari sekali. Dan ini kali pertama aku mengikutinya. Kali ini temanya ialah tentang Rutinitas Pagi. (Ini harusnya dipublish tanggal 1 Februari 2023, tapi aku terlambat posting karena tak mempunyai kuota internet)

Menurutku rutinitas merupakan kebiasaan yang dilakukan secara teratur. Seingatku, rutin berarti teratur. Tapi, silakan cek saja apa artinya di KBBI, mana tahu aku salah.

Dalam tulisan ini aku ingin menceritakan tentang Rutinitas pagi yang pernah ku jalani. Tapi jangan berharap banyak. Sebab, hingga saat ini, tak ada satupun ritual atau rutinitas pagi yang konsisten ku kerjakan. Saat ini, apa yang ku lakukan di pagi hari sangat random, tergantung situasi dan kondisi.

Aku berharap kamu mengambil yang baik-baiknya dan hikmahnya saja pada apa yang aku tulis setelah ini.

Pertama, aku ingin menceritakan dari rutinitasku dulu saat masih sekolah. Sejak SD hingga SMP, kurang lebih 9 tahun aku memiliki rutinitas pagi yang sama. Tentu karena sebagai siswa di sekolah yang masuk jam setengah 7 pagi, aku harus berangkat lebih pagi.

Dulu aku memiliki kebiasaan tidur sebelum jam 10 malam, dan bangun sekitar jam 4 subuh. Setelah bangun tidur pun tidak melamun, melainkan langung mandi, atau buang air besar, setelah itu baru mandi. Air dingin saat subuh benar-benar menyegarkan, dan itu membuatku merasa segar dan tak mengantuk lagi.

Setelahnya, aku pun bersiap untuk pergi ke sekolah. Memakai baju yang sudah disiapkan semalam, memasukan buku pelajaran ke dalam tas, sedikit sarapan, dan lain-lain. Saat semua sudah siap, aku pun mulai berangkat ke sekolah tepat jam 6 kurang 15 menit.

Dan ke sekolah pun saat itu berjalan kaki, tak memakai kendaraan ataupun diantar orangtua. Karena sekolah ku hanya berjarak 15 – 20 menit berjalan kaki dari rumah. Cukup dekat.

Oh ya, biasanya setelah solat subuh, orangtua ku selalu pergi keluar untuk berolahraga. Mereka biasanya berjalan subuh atau jogging. Awalnya kebiasaan itu dimulai karena ibuku yang didiagnosis pembengkakan jantung. Maka ayahku pun berinisiatif agar ibu menjadi lebih sehat, dengan mengajaknya berjalan kaki.

Karena hal itu, aku jarang berpamitan dengan mereka untuk pergi ke sekolah. Tapi tak jarang pula aku bertemu mereka di jalan. Biasanya sekitar 500 meter dari rumah, kami bisa berpapasan.

Contohnya, saat berjalan mengikuti rute yang biasa kulewati ke sekolah. Dari jarak yang cukup jauh, aku sudah mengenali mereka, walau samar, tapi aku tahu pakaian yang biasanya mereka gunakan untuk pergi jalan pagi. Ayahku biasanya memakai jaket hoodie olahraga warna abu-abu terang, dan celana training merah. Ibuku memakai jilbab coklat, baju berwarna putih, dan celana training hitam.

Dan ketika melihat penampilan familiar itu dari jauh, aku bisa mengira-ngira apa yang mereka katakan saat melihat anak kecil yang memakai seragam sekolah, berjalan ke arah mereka, “oh, itu dia, mau berangkat sekolah.” Sembari memperhatikanku sampai jarak kami benar-benar hampir dekat. Dan saat itu ku lihat tawa kecil mereka, walau tak tahu apa yang mereka anggap lucu.

Kemudian aku menghampiri mereka untuk salim dan berpamitan ke sekolah. Dan seringkali ibuku bertanya, apakah aku sudah mengambil uang jajan yang ia masukan ke dalam guci kura-kura atau tidak. Ya, tentu aku mengambilnya.

Itu merupakan kebiasaan ibuku saat mau pergi subuh-subuh, entah itu berangkat keluar kota, ke pasar, dan lain-lain. uang pasti diletakkan di guci kura-kura kecil di atas lemari dekat kamarku.

Sungguh, menuliskan ini membuatku nostalgia dan merindukan masa itu. Masa dimana segalanya terasa ringan dan tak ada yang perlu dikhawatirkan selain dimarahi karena nilai merah, atau karena pulang lewat dari waktu magrib. Dan saat ini aku sudah dewasa, itu tak lagi terjadi. Dan kami juga sudah pindah dari kota itu.

Saat SMK pun tak ada yang berubah, masih seperti itu. Bedanya hanya jaraknya saja yang lebih jauh, sehingga harus berangkat lebih pagi lagi.

Saat menuliskan ini aku menyadari, bahwa kebiasaanku dulu konsisten karena suatu keharusan. Yaitu kewajiban seorang siswa untuk pergi ke sekolah. Aku rasa, itu yang membentuk rasa tanggung jawab dan disiplin. Dan yang menjaga itu tetap konsisten ialah kehadiran orang dewasa, yaitu kedua orangtuaku. Sebagai pengawas dan koordinatornya, hahaha.

Kebiasaan-kebiasaan baik itu sempat rusak karena aku tidak lagi tinggal bersama orangtuaku. Walaupun saat tinggal bersama orangtua dulu kebiasaan itu juga pernah rusak. Karena pergaulan dan teknologi.

Aku anak yang sering dibatasi, kemudian mengenal seseorang yang bebas dan dikenalkan pula dengan asiknya game online, akhirnya rutinitasku, dan diriku juga ikut rusak. Aku cukup menyesal karena terlena dengan game online dan kesenangan sesaat itu.

Aku seringkali tidak tidur semalaman karena keasikan main game. Akhirnya saat di sekolah pun jadi mengantuk dan tidak bisa berkonsentrasi. Emosiku pun menjadi meledak-ledak, dan aku menjadi anak yang kurang ajar.

Tapi, ya sudahlah, itu telah berlalu. Dan aku pun sudah ikhlas menerima apa yang telah terjadi, dan menjadikannya pembelajaran untuk kehidupanku saat ini.

Beranjak dewasa, memasuki bangku kuliah. Dimana aku benar-benar tinggal sendiri di kota yang asing. Aku merasa kesulitan membangun rutinitas pagi. Karena kebanyakan begadang untuk mengerjakan tugas kuliah, tapi ini pun karena kesalahanku yang tak pandai mengatur waktu.

Sebagai mahasiswa, aku juga harus bangun pagi, saat ada jadwal kuliah pagi misalnya. Namun karena sering tidur sekitar jam 3 pagi, aku nyaris terlambat masuk kelas. Mandi pun tidak. Hanya merapikan diri agar terlihat seperti sudah mandi.

Mungkin kalian pernah mengalami hal serupa?

Nah, di kehidupanku yang sekarang, saat tak lagi terikat pada lembaga pendidikan manapun, aku masih berusaha untuk membuat rutinitas pagi yang membuatku lebih produktif.

Awalnya ku coba bermeditasi. Meditasi itu ku lakukan rutin 10 menit setelah bangun tidur. Tapi, hanya pola makanku yang berubah. Dan aku merasa ada makanan-makanan yang tak lagi bisa ku telan. Saat bertanya, mereka bilang itu efek dari rutin meditasi, sehingga sesuatu di dalam tubuhku (entah apa namanya) mulai berubah.

Apakah aku menjadi lebih produktif?

Hmm, rasanya tidak. Perjalananku masih panjang, ini baru permulaan.

Lalu, aku mencoba untuk olahraga pagi. Awalnya mencoba melakukan yoga, tapi tak ku lanjutkan karena bosan dan merasa kesulitan. Ya dari situ aku menyadari betapa tidak cocoknya aku dengan yoga dan betapa payahnya aku dalam hal itu.

Aku pun mengambil olahraga lain yang menurutku menyenangkan dan mudah.

Yaitu, Jalan kaki. Selama hampir setahun aktivitas pagiku selalu dimulai dengan berjalan kaki, sekitar satu jam atau lebih pada rute yang biasa ku lewati. Persis seperti kedua orangtuaku dulu.

Namun, terhenti karena aku sakit cukup parah selama sebulan, dan membutuhkan hampir dua bulan untuk recovery. Sehingga, rutinitas jalan pagiku pun tidak ku lanjutkan lagi waktu itu.

Setelah sehat, aku melakukannya lagi. Namun musibah kembali menimpaku. Aku mengalami kecelakaan motor, dan kaki kananku cidera, sehingga kesulitan untuk berjalan. Efeknya pun masih terasa sampai sekarang, aku tak bisa duduk lama-lama, atau berjalan terlalu lama. Karena itu akan menimbulkan ngilu yang tidak nyaman.

Hal lain yang ku coba ialah membaca buku. Setelah bangun dan mencuci muka, aku membaca buku, targetku ialah 10 lembar setiap pagi. Aku menikmati waktu membaca buku, itu membantu pikiranku lebih fokus dan relaks. Dan kegiatan itu juga banyak membantu dalam perbaikan tulisanku. 

Membaca buku juga banyak memberikan inspirasi dan penyadaran. Melalui buku, aku belajar banyak hal, dan banyak terinpirasi untuk perbaikan diriku. 

Tapi, itu juga tak berjalan lancar, hanya bertahan beberapa hari. Setelah itu, aku kembali pada rutinitas yang biasanya, main HP di atas kasur. Terlena lagi dengan kesenangan sesaat.

Berbeda ketika berada di rumah orangtuaku. Aku bisa sangat produktif untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Dari pagi hingga menjelang siang, dan membiarkan ibuku yang biasa mengerjakannya memiliki waktu untuk istirahat.

Tapi, saat tinggal sendiri, tak ada yang aku khawatirkan, aku merasa bisa bebas melakukan apapun yang ku mau dan cenderung banyak menunda-nunda pekerjaan.

Ini adalah sesuatu yang saat ini berusaha ku kendalikan dan perbaiki. Sebagai orang yang sudah harus bertanggung jawab pada diri sendiri.

Pada akhirnya, saat ini aku seperti tak memiliki rutinitas pagi yang sama setiap harinya. Aktvitas pagiku biasanya sangat random.

Tapi banyak hal yang menjadi lebih baik sejak aku memperbaiki ibadah. Aku rasa ini rutinitas yang wajib aku lakukan setelah bangun tidur, yaitu, solat subuh dan mandi subuh. Walaupun masih sering kesiangan, tapi aku selalu berusaha untuk melakukan kedua hal itu setelah bangun tidur.

Mandi setelah bangun tidur membuatku merasa segar, dan tak mengantuk lagi. Ia seperti membangunkan tiap sel dan jaringan dalam tubuhku. Dan solat subuh membuatku lebih fokus dan tenang. Ia juga menjaga hatiku agar tetap lurus sehingga apapun yang ku lakukan tetap terjaga keberlangsungannya.

Setelah melakukan dua kegiatan itu, aku melakukan apapun yang bisa ku lakukan. Berjalan kaki sekitar 1 jam, membaca buku, berjemur di bawah sinar matahari, atau mencuci pakaian. Walaupun belum rutin, aku berusaha untuk mengisi pagiku dengan hal-hal itu.

Aku tak memaksa diriku untuk bertahan pada satu rutinitas (kecuali ibadah yang selalu berusaha ku lakukan, karena itu kewajiban), karena sifatku yang mudah bosan. Kegiatan apapun yang ku dapatkan di pagi hari, ku anggap itu aktivitas terbaik, jika ia bermanfaat dan tidak membuang-buang waktuku.


Sekian dariku. Sampai bertemu ditulisan lain.

Komentar

  1. Hihihi inget jaman sekolah, pas SD aku juga jalan kaki, pas SMA harus rebutan angkot biar nggak terlambat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai kak. Terima kasih sudah mampir.
      Kalo aku ke sekolah anti banget naik angkot, pernah jadi terlambat gara-gara ngetemnya lamaaaa. hahahaha.

      Hapus
  2. dulu waktu kecil aku juga sering jalan kaki. eh, makin dewasa malah makin jarang :(

    BalasHapus
  3. Aktivitas yang sama berulang ulang lama lama juga membuat bosan

    BalasHapus
  4. Selama senang melakukan, tak masalah bila rutinitas pada hari ini berbeda dengan hari esok

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Untuk Merasa Cukup

Jalan Cerita yang Ditulis Tuhan dan Dipilih Olehku

Self Improvement dari Kesadaran dan Kesederhanaan